Jumlah penayangan

Selasa, 31 Mei 2011

Luca Pacioli

Luca Pacioli adalah seorang pendeta Italia. Beliau merupakan Bapak Akuntansi, karena atas jasanya dalam mengembangkan metode pencatatan double entry. Buku yang diterbitkannya berjudul "Summa de Arithmetica, Geometria Proportioni et Proportionalita". Buku terdiri dari 36 bab diterbitkan tahun 1494 di Venice.

Pencatatan transaksi tidak hanya berpengaruh pada satu perkiraan tetapi juga pada perkiraan lainnya. Dalam buku tersebut terdapat bab yang berjudul "De Computis et Scripturis" menjelaskan tetang pencatatan transaksi perdagangan di Italia dengan double entry bookeeping system. Persamaan akuntansi tersebut adalah Harta = Utang + Modal.

Minggu, 29 Mei 2011

Rekening Selisih kas

Rekening selisih kas dibentuk untuk mencatat selisih antara saldo kas menurut pembukuan dengan jumlah uang yang sebenarnya ada. Perbedaan saldo kas ini dapat disebabkan:

  • Pembayaran beban dicatat  lebih besar atau kurang dari dokumen sumber, Misalnya membayar beban listrik sejumlah Rp 100.000, namun menurut rekening yang sebenarnya Rp 99.850. Dalam hal ini, pemegang buku mencatat sebagai beban listrik sejumlah Rp 98.500 dan selisih kas sejumlah Rp 150 disebelah debit dan disebelah kredit pada rekening kas sejumlah Rp 100.000.
Jurnal atas transaksi di atas:
Beban listrik                                           Rp 99.850
Selisih kas                                             Rp      150
Kas                                                               Rp 100.000
  • Penerimaan pendapatan dicatat lebih besar atau kurang dari dokumen sumber. Hasil penjualan jasa fotocopy secara tunai sejumlah 12.375 lembar @ Rp 125 = Rp 1.546.875. Jumlah uang yang diterima sejumlah Rp 1.546.000 (sejumlah Rp 875 tidak dipandang sebagai potongan penjulan atau pengurang penjualan).
Jurnal atas transaksi di atas:
Kas                                                        Rp 1.546.000
Selisih kas                                              Rp          875
Penjualan jasa                                             Rp 1.546.875

  • Dalam pemeriksaan terhadap kas, jika terdapat selisih antara saldo menurut pembukuan dibandingkan saldo menurut perhitungan pisik dan penyebabnya tidak diketahui, sebagai contoh saldo rekening kas sejumlah rp 15.275.350 dan menurut perhitungan pisik terdapat kas sejumlah Rp 15.275.000.
Jurnal yang dibuat:
Selisih kas                                             Rp     350
Kas                                                               Rp        350

Rekening Selisih kas dapat memiliki saldo debit atau kredit. Pada akhir periode akuntansi, saldo rekening Selisih Kas ditutup (dijadikan saldo nol) dengan membuatkan jurnal penutup, dan dipandang sebagai pendapatan atau beban diluar usaha. Apabila rekening selisih kas bersaldo kredit sejumlah Rp 125.540 maka jurnal penutupnya adalah:
Ikhtisar R/L                                             Rp 125.540
Selisih Kas                                                Rp 125.540

Jumat, 27 Mei 2011

File kartu pada Myob Acc

Untuk mencatat transaksi dalam aplikasi Myob Acc, seperti transaksi pembelian barang/jasa, pembayaran utang dagang, penjualan barang/jasa, penerimaan atas pelunasan piutang dagang, retur penjualan, retur pembelian, dan masih banyak lainnya. Dengan menggunkan file kartu dalam pencatatan suatu transaksi, maka disamping diposting ke rekening juga akan diposting ke buku tambahan (file kartu).

Jenis-jenis file kartu yang disediakan adalah (1) customer, (2) suplier, (3) employee, dan  (4) personal.
Pembuatan keempat jenis file kartu di atas hampir sama, yang berbeda hanya pada pemilihan type kartu. 

Untuk lebih jelasnya dalam pembuatan file kartu yang baru, ikutilah langkah-langkah berikut in:
1. Aktifkan modul Card File
2. Klik tombol Card List, muncul kartu file yang telah ada.
3. Klik tombol New
4. Isilah seluruh field dengan lengkap.
5. Terakhir klik tombol OK.

Rabu, 25 Mei 2011

Jurnal Khusus dalam Myob Accounting

Myob Accounting menyediakan fasilitas jurnal umum dan jurnal khusus untuk mengentry transaksi keuangan. Jurnal khusus yang disediakan adalah:
1. Jurnal penerimaan kas(cash receive journal)
2. Jurnal pengeluaran kas (cash disburcement journal)
3. Jurnal penjualan (Sales journal)
4. Jurnal pembelian (purchases journal)
5. Jurnal persediaan barang (inventory journal)


Dalam pelaksanaannya, jurnal umum (general journal) digunakan juga karena fungsi jurnal ini hanya sebagai pembantu apabila terdapat transaksi yang tidak dapat dicatat dalam jurnal khusus di atas.

Tombol-tombol yang digunakan untuk mengentry transaksi keuangan adalah:
  1. Modul Sales-Enter Sales menghasilkan jurnal : (a.) Jurnal penjualan; (b). Jurnal penerimaan kas
  2. Modul Sales-Receive Payment menghasilkan jurnal Jurnal penerimaan kas
  3. Modul Purchases-Enter Purchases menghasilkan jurnal: (a). Jurnal pembelian; (b). Jurnal pengeluaran kas
  4. Modul Purchases-Pay Bills menghasilkan jurnal Jurnal pengeluaran kas
  5. Modul Banking-Spend Money menghasilkan jurnal pengeluran kas.
  6. Modul Banking-Receive Money menghasilkan jurnal penerimaan kas.
  7. Modul Banking-Transfer Money untuk mencatat perpindahan akun kas yan satu ke akun kas yang lainnya (perusahaan memiliki lebih dari satu akun kas)
  8. Modul Inventory-Count Inventory atau Adjust Inventory menghasilkan jurnal persediaan barang
  9. Modul Accounts-Reconcile Accounts menghasilkan jurnal penerimaan kas dan atau jurnal pengeluaran kas
  10. Modul Accounts-General Journal Entry menghasilkan jurnal umum.

Entry transaksi keuangan ke dalam jurnal khusus diatas perlu mempertimbangkan ketentuan sebagai berikut:
  1. Jurnal umum (general journal) hanya digunakan apabila suatu transaksi tidak dapat dicatat dalam salah satu dari jenis jurnal khusus yang disediakan.
  2. Transaksi pembelian item barang yang memerlukan pencatatan pada file kartu pemasok (buku tambahan hutang) dan adanya pencatatan atas stock barang yang dibeli  maka atas pembelian item baik secara tunai maupun kredit wajib menggunakan modul Purchases-Enter purchases.
  3. Transaksi retur pembelian yang menggunakan sistem perfectual tidak menggunakan rekening Retur Pembelian, namun merupakan pembelian negatif (modul Purchases-Enter Purchases).
  4. Transaksi pembelian jasa (misalnya pembayaran sewa) secara kredit yang memerlukan catatan pada file kartu pemasok wajib menggunakan modul Purchases-Enter purchases, namun apabila pembelian jasa secara tunai dapat menggunakan modul Banking-Spending Money.
  5. Pembayaran atas hutang yang timbulnya karena pembelian kredit atas item/jasa dengan menggungan modul Purchases, maka wajib menggunakan modul Purchases-Pay Bills.
  6. Transaksi pembayaran selain yang dapat dicatat dalam modul Purchases-Pay Bills, wajib menggunakan modul Banking-Spend Money.
  7. Transaksi penjualan item barang yang memerlukan pencatatan pada file kartu pemasok (buku tambahan hutang) dan adanya pencatatan atas stock barang yang dijual, maka atas penjualan item baik secara tunai maupun kredit wajib menggunakan modul Sales-Enter Sales.
  8. Transaksi retur penjualan tidak menggunakan rekening Retur Penjualan namun dianggap penjualan negatif (modul Sales-Enter Sales)
  9. Transaksi penjualan jasa (misalnya pendapatan sewa) secara kredit yang memerlukan catatan pada file kartu pelanggan wajib menggunakan modul Sales-Enter Sales, namun apabila penjualan jasa secara tunai dapat menggunakan modul Banking-Receive Money.
  10. Penerimaan  atas piutang yang timbulnya karena penjualan kredit atas item/jasa dengan menggungakan modul Sales, maka wajib menggunakan modul Sales-Receive Payments
  11. Transaksi penerimaan uang selain yang dapat dicatat dalam modul Sales-Receive Payments, wajib menggunakan modul Banking-Recive Money.
  12. Perpindahan kas ke kas jenis lainnya (misalnya penyetoran kas ke rekening bank) wajib menggunakan modul Accounts-Transfer Money.
  13. Transaksi atas rekonsiliasi bank menggunakan modul Banking-Reconcile Accounts.
  14. Pencatatan atas persediaan awal / akhir barang dagang wajib menggunakan modul Inventory dan tidak boleh menggunakan jurnal umum (modul Accounts-General Journal Entry).
  15. Selain transaksi yang dapat dicatat dalam jurnal khusus di atas dicatat dalam modul Accounts-General Journal Entry, seperti pengambilan prive berupa barang yang tidak memerlukan catatan pada buku tambahan, penjualan gedung secara kredit yang tidak memerlukan catatan pada file kartu pelanggan.

Senin, 23 Mei 2011

Sejarah Akuntansi di Indonesia

Sejarah akuntansi di Indonesia tidak dapat terlepas dari perkembangan akuntansi dari luar. Negara asing membawa akuntansi untuk masuk di Indonesia. Namun masyarakat Indonesia tentunya sudah memiliki system akuntansi sendiri sebagai pelaporan, misalnya pada zaman keemasan Sriwijaya, Majapahit, Mataram.

Sebelum bangsa Eropa masuk ke Indonesia, transaksi daf\gang di Indonesia dilakukan dengan barter. Orang Beanda dating ke Indonesia dengan tujuan dagang dan kemudian mereka mebnetuk VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie), yang didirikan pada tahun 1602. VOC membuka cabang di Batavia pada tahun 1619 dan tempat-tempat lain di Indonesia. Kemudian dibentuk jabatan gubernur jendral untuk menangani urusan VOC. Pada tanggal 31 Desember 1799 VOC dibubarkan karena mengalami kemunduran. Pada waktu itu, VOC memperoleh hak monopoli perdagangan rempah-rempah yang dilakukan secara paksa. Transaksi perdagangan terus bertambah dari waktu ke waktu, dan dipastikan VOC telah melakukan pencatatam atas transaksi keuangannya.

Setelah VOC bubar pada tahun 1799, kekuasaanya diambil oleh Kerajaan Belanda. Pada waktu itu, catatan pembukuannya menekankan pada mekanisme debet dan kredit. Pada abad ke-19 banyak peruahaan didirikan dan masuk ke Indonesia seperti Deli Maatschaappij (perkebunan), Biliton Maatschaappi (timah), Bataafche Petrolium Maatschaappi (minyak), Koninklijke Paketvaart Maatschappi (pelayanan nusantara selanjutnya setelah merdeka dinasionalisasikan menjadi PELNI), Rotterdamsch Lloyd(maskapai atau agen pelayaran internasional yang selanjutnya dinasionalisasi menjadi Djakarta Lloyd), Koninklijke Nederlands Indische Luhtvaart Matshaappi (penerbangn nusantara yang dinasionalisasikan menjadi Garuda Airways), dan masih banyak lagi yang lainnya. Catatan pembukuannya merupakan modifikasi system Venusia-Italia. Pada segmen perdagangan menengah ke bawah dikuasai oleh pedagang keturunan Cina, India dan Arab. Dan pencatatannya dipengaruhi oleh system asal etnis yang bersangkutan. Dengan demikian maka terdapat sistem pembukuan Cina seperti system Hokkian (Amoy), sistem Kanton, system Hokka, system Tio Tjoe atau system Swatow, system pembukuan India (system Bombay) dan system pembukuan Arab (Hadramaut).

Pada masa penjajahan Jepang antara tahun 1942-1945, banyak orang Belanda ditangkap dan dimasukkan ke dalam sel, sehingga menyebabkan kekurangan tenaga kerja pada jawatan Negara termasuk Kementerian Keuangan. Untuk mengatasi hal tersebut, diadakan latihan pegawai dan kursus pembukuan pola Belanda dengan tenaga pengajarnya J.E de I'duse, Akuntan, Dr. Butari, Akuntan, J.D. Masue dan R.S. Koesoemoputro. Pada masa penjajahan Jepang, pembukuan msih menggunakan system pola Belanda. 

Pada jaman Kemerdekaan, awalnya akuntansi berkembang adalah system Belanda yang dikenal dengan nama system Tata Buku. Sistem ini sebenarnya merupakan subsistem dari Akuntansi. Pendidikan di sekolah formal menggunakan system Tata Buku seperti SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama), SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas) dan di universitas yang memiliki Fakultas Ekonomi.

Masuknya modal asing terutama dari Amerika dan sekutunya, juga memberikan bantuan (bea sisiswa) kepada dosen-dosen Indonesia untuk belajar akuntansi di Amerika. Sistem akuntansi Amerika menjadi dominan. Pada tahun 1980 pemerintah Indonesia atas bantuan Word Bank melakukan upaya harmonisasi system akuntansi sehingga diupayakan untuk menghapus dualisme system akuntansi. Upaya tersebut seperti mendirikan   Pusat Pengembangan Akuntansi (PPA), di empat universitas yaitu UI, UGM, UNPAD dan USU. PPA melakukan pendidikan ke pada dosen-dosen perguruan tinggi, guru-guru Tata Buku di SMEA maupun di SMA seluruh Indonesia. Setelah selesai proyek itu, maka berakhirlah dualism system akuntansi dan pendidikan akuntansi di Indonesia.

Minggu, 15 Mei 2011

Struktur Teori Akuntansi

Struktur teori akuntansi merupakan elemen yang saling berkait dan menjadi pedoman pengembangan teori dan penyusunan teknik-teknik akuntansi. Elemen tersebut adalah 
(1)Tujuan Laporan Keuangan, 
(2) Postulat Akuntansi, 
(3) Konsep Teoritis Akuntansi, 
(4) Prinsip Dasar Akuntansi, dan (5) Standar Akuntansi. 

(1) Tujuan Laporan Keuangan merupakan dasar awal dari struktur akuntansi, yaitu menyedikan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi para pemakai dalam pengambilan suatu keputusan. 

(2) Postulat Akuntansi merupakan pernyataan yang dapat membuktikan kebenarannya sendiri atau disebut juga dengan aksioma yang sudah diterima karena kesesuaiannya dengan tujuan laporan keuangan, yang menggambarkan aspek ekonomi, politik, sosiologi dan hokum dari suatu lingkungan di mana akuntansi itu beroperasi. Postulat Akuntansi terdiri dari:
(a) Postulat Entity; akuntansi mencatat hasil kegiatan operasi dari entity (lembaga, perusahaa) yang terpisah dari pemiliknya.

(b) Postulat Going Concern (Continuity); akuntansi menganggap entity  (lembaga, perusahaan) akan terus melaksanakan usaha dalam waktu yang tidak terbatas.
(c) Postulat Unit of Measure; akuntansi akan mencatat transaksi yang harus dapat diukur dengan alat ukur moneter (satuan mata uang), bukan dengan alat hitung non moneter seperti kilogram, meter, luas, dan lainnya.
(d) Postulat Accounting Period; walaupun akuntansi menganggap entity akan melakukan usaha yang tidak  terbatas, namun penyajian laporan keuangan dibatasi dengan waktu (periode) tertentu, seperti per bulan, per semester atau setahun.

(3) Konsep Teoritis Akuntansi menyangkut kepemilikan atau control  terhadap entity akuntansi yang akan dialporkan sehingga jenis informasi itu dibuat untuk kepentingan pemakai.
(a) The Proprietary Theory; menurut konsep ini, entity dianggap sebagai agen dari pemilik, sehingga pemilik (proprietor) merupakan pusat perhatian yang akan dilayani oleh informasi akuntansi. Dalam teori ini, hak pemilik merupakan kekayaan dikurangi kewajiban (Proprietor's Equity = Assets – Liabilities).
(b) The Entity Theory; menurut teori ini, entity merupakan sesuatu  yang terpisah dengan kekayaan pemilik. Dengan demikian, entity memiliki kekayaan dan kewajiban baik kepada kreditor maupun kepada pemilik (Assets = Liabilities + Stockholder's Equity).
(c) The Fund Theory; dalam teori ini yang menjadi perhatian bukan pada pemilik, dan perusahaan, namun sekelompok harta dan kewajiban yang harus ditunaikan (fund) yang masing-masing-masing pos memiliki aturan penggunaannya (Assets = Pembatasan Assets).
(d) The Enterprise Theory; teori akuntansi wajib memperhatikan kepentingan keseluruhan pihak yang memiliki kepentingan baik lngsung maupun tidak langsung dengan perusahaan, seperti pemilik, manajemen, masyarakat, pemerintah, kreditor, pegawai, dan lain-lainnya.
(e) Residual Equity Theory; teori akuntansi yang mengganggp bahwa yang menjadi pusat perhatian bukan semua pemilik, namun pemegang saham biasa. (Residual Equity = Assets – Liabilities – Prefered Equities).
(f) Commander Theory; teori akuntansi yang memfokuskan perhatian pada mereka yang memiliki kekuasaan atau kewenangan untuk melakukan control ekonomi atas resorsis yang efektif suatu lembaga.
(g) The Investor Theory; teori akuntansi yang menekankan pada investor, yaitu pemilik dan kreditor. Assets = Specific Equities + Residual Equities.

(4) Menurut Standar Akuntansi Keuangan Indonesia, memberikan 2 asumsi dasar (Prinsip Dasar Akuntansi) yaitu: 
(a) Dasar Akrual; dalam penyusunan laporan keuangan didasarkan pada kejadian atau peristiwa pada transaksi itu. 
(b) Kelangsungan Usaha; laporan keuangan disusun dengan anggapan bahwa perusahaan akan terus melanjutkan usahanya.

Sabtu, 14 Mei 2011

Piutang Dagang

Piutang merupakan tagihan sejumlah uang kepada pelanggan (debitur). Hal ini disebabkan terjadinya transaksi penjualan barang dan jasa secara kredit. Penjualan barang/jasa ditentukan dengan termin pembayaran, seperti n/30, 2/10,n/30 dan seterusnya. Kode n artinya jatuh tempo kredit, 2/10 artinya mendapat potongan 2% jika melunasi tidak lebih dari 10 hari.
Penjualan barang secara kredit akan menyebabkan debit Piutang dagang  dan dikredit Penjualan. Penjualan jasa dapat berupa sewa gedung, sewa kendaraan, sewa tanah, bunga uang yang selanjutnya akan dicatat
dikredit dengan akun Pendapatan Sewa, Pendapatan bunga atau nama akun  yang relevan.

Jurnal:
1/1 Piutang Dagang                                  xxxxxxxxxx
      Penjualan/Pendapatan ..........                               xxxxxxxx

Sering sekali terjadi pelanggan (debitur) tidak menepati janji untuk melunasi hutangnya sesuai dengan perjanjiannya (jatuh tempo kredit), sehingga pihak perusahaan akan mengalami kerugian atas kejadian ini. Penghapusan piutang dapat menggunakan (1) Metode Cadangan (Penyisihan) atau (2) Metode Langsung.
Metode Cadangan(Penyisihan)
Metode Cadangan penghapusan piutang dengan cara membentuk dana (cadangan) yang diperuntukkan menanggulangi kemungkinan timbulnya kerugian di masa yang akan datang. Besarnya cadangan ditentukan pada akhir periode akuntansi dengan membuat ayat penyesuaian dengan tariff x% dari jumlah penjualan kredit, saldo piutang atau ketentuan lainnya, dan ditentukan berapa besar biaya kerugian piutang. Pada saat terdapatnya piutang dipastikan tidak dapat ditagih karena debitur failit atau hal lainnya, maka perusahaan tidak akan mencatat sebagai biaya namun diambilkan dalam cadangan tersebut.

Contoh 1:
31/12 Diketahui data saldo piutang dagang sejumlah Rp 100.000.000 dan besarnya cadangan penghapusan piutang 5% dari saldo piutang. Saldo cadangan penghapusan piutang (kredit) Rp 6.000.000.

Besarnya cadangan per 31/12= 5% X Rp 100.000.000        = Rp 5.000.000 K
Cadangan yang telah ada ...................................................     Rp 6.000.000 K
Kelebihan cadangan ..........................................................     Rp 1.000.000 D

Ayat Penyesuaian:
Cadangan Penghapusan Piutang           Rp 1.000.000
Biaya Penghapusan Piutang                                       Rp 1.000.000

Contoh 2:
31/12 Diketahui data saldo piutang dagang sejumlah Rp 100.000.000 dan besarnya cadangan penghapusan piutang 5% dari saldo piutang. Saldo cadangan penghapusan piutang (kredit) Rp 2.000.000.

Besarnya cadangan per 31/12= 5% X Rp 100.000.000       = Rp 5.000.000 K
Cadangan yang telah ada  ...................................................   Rp 2.000.000 K
Kekurangan cadangan ........................................................   Rp 3.000.000 K

Ayat Penyesuaian:
Biaya Penghapusan Piutang                   Rp 3.000.000
Cadangan Penghapusan Piutang                                Rp 3.000.000

Contoh 3:
10/1 Diketahui UD Ayu failit dan tidak mampu membayar hutangnya. Saldo piutang perusahaan kepadanya sejumlah Rp 5.000.000 dihapuskan.
Jurnal:
Cadangan Penghapusan Piutang           Rp 5.000.000
Piutang Dagang                                                       Rp 5.000.000

15/1 Apabila pada hari ini  UD Ayu membayar hutangnya yang telah dihapuskan sejumlah Rp 5.000.000, maka dijurnal:
Piutang Dagang                                   Rp 5.000.000
Cadangan Penghapusan Piutang                              Rp 5.000.000
Dan
Kas                                                    Rp 5.000.000
Piutang Dagang                                                     Rp 5.000.000

Metode Langsung
Metode Langsung penghapusan piutang dengan tidak membentuk dana (cadangan) yang diperuntukkan menanggulangi kemungkinan timbulnya kerugian di masa yang akan datang. Pada saat terdapatnya piutang dipastikan tidak dapat ditagih karena debitur failit atau hal lainnya, maka perusahaan akan mencatat sebagai biaya mengurangkan piutang tersebut. Dengan demikian tidak diperlukan ayat penyesuaian pada akhir periode untuk membentuk cadangan.

Contoh 4:
10/1 Diketahui UD Ayu failit dan tidak mampu membayar hutangnya. Saldo piutang perusahaan kepadanya sejumlah Rp 5.000.000 dihapuskan.
Jurnal:
Biaya Penghapusan Piutang              Rp 5.000.000
Piutang Dagang                                                   Rp 5.000.000

15/1 Apabila pada hari ini UD Ayu membayar hutangnya yang telah dihapuskan sejumlah Rp 5.000.000, maka dijurnal:
Piutang Dagang                               Rp 5.000.000
Biaya Penghapusan Piutang                                 Rp 5.000.000
Dan
Kas                                                Rp 5.000.000
Piutang Dagang                                                  Rp 5.000.000
Atau jurnal tersebut dapat digabung menjadi:
Kas                                                Rp 5.000.000
Biaya Penghapusan Piutang                                Rp 5.000.000

Pengikut

Entri Populer